KESETARAAN GENDER
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita
( Sabda Alam : Ismail Marzuki )
Bait demi bait lagu ini menggambarkan dengan jelas dan manis bahwasannya wanita itu mahluk yang lemah lembut tetapi pada suatu ketika dia dapat menjadi seseorang yang mempunyai kekuatan yang dapat mengalahkan segalanya.
Contoh soal bagaimana seorang wanita dapat bertahan dari segala rintangan dan cobaan setelah ditinggal oleh suaminya untuk selama-lamanya meskipun dengan segala keterbatasan yang ada serta beban yang tidak sedikit mengasuh anak dan mendidik anak-anaknya yang menjadi tanggung jawab sepenuhnya. Namun semua dihadapi dengan tegar yang pada akhirnya berbuah manis setelah semua anaknya mapan dalam kehidupan dan sampai dia menutup mata tidak ada keinginan untuk menikah lagi selain hanya keinginan untuk melihat anak-anaknya yang mapan tanpa kekurangan suatu apapun jika ia dipanggil olehNya. Berbeda dengan Laki-laki yang mungkin akan langsung mencari Ibu pengganti bagi anak-anaknya bila ditinggal selamanya oleh sang Istri. Bukan bermaksud mendeskreditkan, karena ini ada kaitannya dengan kodrat kita sebagai laki-laki dan perempuan.
Tidak keliru kalau dengan alasan "kesetaraan" kemudian muncul gagasan, bahkan tuntutan untuk mempersamakan peran antara keduanya hampir dalam seluruh bidang dan aspek kehidupan. Padahal, Tuhan sengaja menciptakan laki-laki dan perempuan dalam kondisi yang berbeda itu bukan tanpa maksud. Bukan untuk disamakan, melainkan untuk berpasang-pasangan. Firman-Nya dalam Alquran "Dan segala sesuatu itu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah (QS. 51:49).
Makna di balik konsep "berpasang-pasangan" adalah kesadaran sekaligus pengakuan akan kekurangan dan kelebihannya. Itu sebabnya, konsep berpasang-pasangan lebih banyak menuntut arti pentingnya melakukan sharing bukan bersaing. Menekankan arti pentingnya saling mengisi dan melengkapi, bukan saling mengalahkan seperti kecenderungan yang terjadi belakangan ini. Perbedaan itu mesti dibaca bukan sebagai "kelemahan", tetapi justru sebuah "keistimewaan".
Fenomena keterpurukan kaum Hawa dalam berbagai bidang kehidupan sangat berkait dengan persoalan ketidakadilan gender adalah buah dari konstruksi sosial atau budaya patrikal yang harus dieliminasi bahkan dihapuskan.
Bahwasannya budaya kita yang beraneka ragam suku bangsa ini masih menjadi landasan dasar-dasar struktur sosial yang hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat kita, terlebih di banyak daerah menganut sistem yang memadukan budaya patriarki dengan sistem ekonomi yang bersifat kapitalis. Dua sistem ini berkonspirasi dengan sangat sempurna yang pada akhirnya akan membuat kesenjangan yang bermasalah bagi sebuah hubungan serta aktifitas antara laki-laki dan perempuan. Hal ini memunculkan sebutan yang satir bagi seorang perempuan bahwa perempuan itu bekerja “ Dari matahari belum terbit sampai mata suami terpejam “ Pada akhirnya dengan mengerjakan pekerjaan secara bersama-sama antara laki-laki dan perempuan baik di ruang publik (umum) maupun diruang domestik (rumahtangga) tanpa menimbulkan kesenjangan yang bermasalah, akan membuat hubungan yang harmonis, setara, sejajar dan seimbang antar kedua belah pihak.
Sepanjang masih dalam koridor yang aman dan ditentukan oleh kodrat kita sebagai manusia maka gender seyogyanya dapat diterima oleh semua pihak. Janganlah dilihat dari kacamata "Bersaing", namun lebih kepada " kemitraan" antara lelaki dan perempuan.








